Kamis, 26 Oktober 2017

Kisah Dari Batik Bono, Nikmah Berharap Bisa Berangkat Umroh

Kain batik selama ini identik dengan kain bermotif tulis dan cap yang dikembangkan di Pulau Jawa. Tetapi kini sudah ada batik dengan cita rasa khas Melayu asal Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.

Batik dengan motif unggulan bertajuk Bono ini dikembangkan oleh Rumah Batik Andalan, binaan PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP) yang dirintis sejak 2013.



Salah satu pembatik, Nikmah, asal Brebes, Jawa Tengah sudah membuat kain batik sejak 2015 setelah mengikuti pelatihan yang diberikan oleh pengelola.

Dia diajarkan membuat batik tulis menggunakan canting, juga batik cap dan semi tulis yaitu gabungan batik cap dan tulis, mulai dari membuat pola, membuat motif dengan canting, mewarnai kain, hingga tahap akhir yaitu membuang lilin motif batik.


"Saya belajar dengan semangat, bisa ikut pelatihan membatik ini karena ditawarkan teman, dan harapannya dulu bisa bantu suami menambah penghasilan," katanya.

Saat belajar membatik ini, dukungan PT RAPP tidak tanggung-tanggung. Peserta pelatihan sekitar 10 orang dibawa ke Yogyakarta untuk belajar ke ahlinya langsung, selama 3 hari di sana.

Setelah itu ilmu yang didapat itu mulai dipraktikkan, karena masih baru jadi perlu beberapa perbaikan dan pengawasan langsung dari ahli batik.

Hasilnya Nikmah kini sudah menjadi salah satu pembatik tetap dan bisa membantu keluarga dari penghasilan yang didapatnya.

Bahkan dia juga sudah bisa membeli rumah untuk tempat tinggal keluarga, karena sebelumnya masih menyewa, sekaligus membeli motor pribadi untuk berangkat kerja dari rumah ke lokasi rumah batik Andalan.

"Harapan saya ke depan, usaha batik ini terus berkembang dan saya bisa menabung untuk berangkat umroh," katanya.

Ketua Kelompok Pembatik di Rumah Batik Andalan, Siti Nurbaya mengatakan usaha batik motif khas Melayu Bono ini memang dirintis sejak 2013 silam.

Awalnya tim community development (CD) PT RAPP menawarkan ke masyarakat sekitar untuk ikut pelatihan membatik, dan ada sebanyak 60 peserta berminat di gelombang pertama.

Peserta ini digembleng selama enam bulan, tetapi bekal ilmu masih sedikit dan akhirnya vakum tanpa kegiatan. Melihat kondisi ini, CD PT RAPP kembali memanggil ulang peserta dan sebanyak 25 orang bertahan untuk ikut pelatihan gelombang II.

Di saat itulah usai dilatih di Yogyakarta, kelompok pembatik mendapatkan pesanan 100 lembar kain batik dari PT RAPP.

"Di sini kami mulai semangat untuk memenuhi pesanan. Walau hasilnya tidak maksimal masih kurang di sana-sini tapi tetap diterima, dan kami menjadi termotivasi untuk menghasilkan batik terbaik," katanya.

Tentang motif batik Bono, itu dibuat karena daerah Pelalawan punya objek wisata gelombang sungai Kampar, yaitu ombak Bono yang terkenal.

Selain itu juga untuk mengangkat kearifan lokal Melayu, sehingga motif batik yang dibuat itu diharapkan memberikan kebanggaan bagi pemakainya.

"Sekarang sudah ada ratusan motif yang kami buat, dan 5 di antaranya sudah terdaftar hak ciptanya di Kementerian Hukum dan HAM," katanya.

Adapun lima motif yang hak ciptanya sudah terdaftar yaitu Bono, Akasia, Timun Suri, Eucalyptus, dan Daun Lakum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar